Punya anak yang ogah makan sayur, milih-milih makanan, atau butuh waktu sejam buat ngabisin satu sendok nasi? Wah, selamat datang di dunia parenting dengan tantangan bernama: picky eater alias anak susah makan.
Tenang, kamu gak sendirian. Banyak orang tua juga mengalami drama saat waktu makan tiba – mulai dari anak yang tutup mulut rapat, buang makanan diam-diam, sampai nangis dulu baru suapan masuk.
Tapi kabar baiknya, ada banyak cara kreatif dan psikologis yang bisa bikin makan jadi momen seru, bukan medan perang.
Rekomendasi
Yuk, kita bahas tuntas kenapa anak bisa susah makan dan gimana cara menghadapinya tanpa paksaan, tapi tetap efektif.
Kenapa Anak Bisa Susah Makan?
Anak-anak, terutama usia balita, sedang belajar mengenal rasa, tekstur, dan warna makanan. Jadi, bukan hal aneh kalau mereka:
- Hanya mau makan makanan tertentu berulang-ulang
- Menolak makanan baru karena belum familiar
- Lebih tertarik main daripada duduk diam di meja makan
- Sedang alami fase tumbuh kembang yang menurunkan nafsu makan
Picky eater itu fase normal dalam perkembangan, bukan selalu tanda masalah kesehatan.
Cara yang Perlu Dihindari Saat Anak Susah Makan
Sebelum masuk ke tips kreatif, yuk catat dulu beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan:
- Memaksa atau memarahi anak saat makan
- Menyogok anak dengan hadiah atau gadget
- Menyalahkan anak terus-menerus
- Membandingkan dengan saudara atau teman (“Tuh, kakak aja doyan sayur”)
Semua itu bisa bikin anak makin trauma atau mengasosiasikan waktu makan dengan tekanan, bukan kenyamanan.
Cara Seru dan Efektif agar Anak Mau Makan Tanpa Drama
1. Libatkan Anak dalam Proses Memasak
Ajak anak memilih bahan makanan di pasar atau supermarket, lalu bantu siapkan masakan sederhana seperti salad, roti isi, atau nasi goreng mini.
Anak cenderung lebih mau makan makanan yang mereka bantu siapkan. Mereka merasa punya andil dan lebih penasaran dengan hasilnya.
2. Kreasikan Makanan Jadi Bentuk Lucu
Bentuk nasi jadi beruang, sayur jadi pohon, atau telur jadi matahari kecil. Kamu gak harus jago bento, cukup kreatif dengan alat potong dan warna-warni alami.
Visual yang menarik bisa meningkatkan nafsu makan dan menghilangkan rasa takut terhadap makanan baru.
3. Buat Jadwal Makan yang Konsisten
Tentukan jam makan dan camilan yang tetap setiap hari. Hindari memberi camilan mendekati jam makan utama.
Tubuh anak belajar mengenali kapan waktunya lapar dan makan, bukan ngemil terus-terusan.
4. Berikan Pilihan, Tapi Terbatas
Contoh: “Kamu mau makan wortel atau brokoli hari ini?”
Bukan: “Kamu mau makan apa?”
Memberi pilihan bikin anak merasa punya kendali, tapi tetap dalam batas sehat yang kamu tentukan.
5. Jadikan Makan Waktu yang Menyenangkan
Ciptakan suasana santai di meja makan. Hindari menyalakan TV atau memberi HP. Ajak ngobrol ringan tentang hari mereka, bukan soal makanan.
Saat suasana nyaman, anak lebih mudah terbuka dan mau mencoba makanan baru.
6. Contohkan Pola Makan Sehat
Anak cenderung meniru apa yang dilihat, bukan apa yang disuruh. Jadi pastikan kamu juga makan sayur, buah, dan makanan sehat dengan antusias.
Anak belajar dari teladan, bukan ceramah.
7. Berikan Porsi Kecil Dulu
Jangan langsung menyajikan porsi besar. Mulai dari sendok kecil agar tidak terlihat mengintimidasi.
Kalau habis dan minta tambah, itu jauh lebih baik daripada sisa makanan yang bikin kamu frustrasi.
8. Kenalkan Makanan Baru Perlahan
Bisa lewat:
- Menaruh sayur di piring meskipun belum dimakan
- Menyentuh dulu, lalu cium aromanya
- Cerita tentang asal makanan atau warna-warninya
Perkenalan tanpa tekanan bisa membuat anak lebih terbuka mencoba.
Ide Menu Kreatif untuk Anak Picky Eater
- Nugget sayur homemade: Campuran wortel, bayam, dan tahu
- Smoothie buah + sayur: Pisang, stroberi, dan sedikit bayam
- Roti lapis lucu: Dengan topping keju, telur, dan timun berbentuk wajah
- Sup pelangi: Aneka sayur warna-warni dalam kaldu ayam gurih
Ingat, tujuan makan bukan sekadar agar anak kenyang, tapi juga agar mereka punya hubungan yang sehat dengan makanan sejak dini. Jangan jadikan makan sebagai ajang paksaan atau pertempuran.
Dengan pendekatan yang santai, empatik, dan penuh kreativitas, kamu bisa bantu anak membangun kebiasaan makan yang positif seumur hidup.
Anak yang merasa dihargai dan diberi ruang untuk mengeksplorasi, akan lebih mudah belajar menyukai makanan – tanpa drama, tanpa paksaan.














