Kalau kamu atau orang terdekat sedang hamil, mungkin pernah mengalami atau mendengar cerita ngidam yang unik – mulai dari ingin makan durian tengah malam, es batu, bahkan ada juga yang pengen cium aroma bensin (iya, kamu gak salah baca).
Tapi pertanyaannya: ngidam itu wajar gak sih? Dan apakah ada hubungannya sama kekurangan nutrisi atau kondisi tubuh?
Ngidam memang jadi salah satu fenomena menarik selama masa kehamilan. Tapi di balik keanehannya, ada banyak hal yang bisa dijelaskan secara ilmiah – baik dari sisi fisik maupun psikologis.
Rekomendasi
Yuk, kita kupas tuntas: apakah ngidam itu normal, kapan harus waspada, dan bagaimana cara menyikapinya dengan bijak.
Apa Itu Ngidam?
Ngidam adalah kondisi di mana ibu hamil mengalami keinginan kuat, spesifik, dan kadang mendadak terhadap makanan atau sensasi tertentu.
Ini bisa muncul kapan saja selama masa kehamilan, tapi paling sering terjadi di trimester pertama dan kedua.
Fenomena ini gak cuma soal makanan. Beberapa ibu hamil juga “ngidam” aroma tertentu atau sensasi aneh seperti mengunyah es, bahkan kapur.
Contoh Ngidam Aneh yang Umum Terjadi
- Ngidam es batu (bukan air dingin, tapi harus dikunyah)
- Ngidam aroma bensin, sabun, atau tanah
- Ngidam makanan yang dulu gak disukai
- Ngidam makanan dari masa kecil atau kampung halaman
- Ngidam makanan yang tidak umum dikonsumsi, seperti makanan mentah atau tidak matang
Lucu? Bisa iya. Tapi juga bisa jadi tanda tubuh sedang memberi sinyal penting.
Kenapa Ibu Hamil Bisa Ngidam?
1. Perubahan Hormon
Hormon kehamilan seperti estrogen dan progesteron meningkat tajam, memengaruhi penciuman, rasa, dan suasana hati. Ini membuat ibu hamil jadi lebih sensitif terhadap aroma dan rasa tertentu.
2. Perubahan Kebutuhan Nutrisi
Tubuh ibu hamil butuh lebih banyak nutrisi, seperti zat besi, kalsium, atau seng. Ngidam tertentu bisa jadi sinyal bahwa tubuh kekurangan nutrisi spesifik.
Contoh:
- Ngidam es batu → bisa jadi tanda anemia defisiensi zat besi
- Ngidam makanan asin → tubuh butuh lebih banyak sodium atau cairan
- Ngidam susu atau keju → kebutuhan kalsium meningkat
3. Faktor Emosional & Psikologis
Ngidam juga bisa berkaitan dengan kebutuhan emosional. Misalnya, makanan tertentu mengingatkan pada masa kecil atau memberi rasa nyaman. Ini disebut comfort food craving.
Kapan Ngidam Perlu Diwaspadai?
Meskipun kebanyakan ngidam bersifat normal dan gak berbahaya, ada kondisi yang perlu kamu perhatikan:
1. Ngidam Zat Non-Makanan (Pica)
Jika ibu hamil ingin mengonsumsi tanah, sabun, kapur, pasir, kertas, dll – ini bisa jadi tanda kekurangan zat besi atau gangguan psikologis.
Segera konsultasikan ke dokter karena bisa berbahaya bagi ibu dan janin.
2. Ngidam Berlebihan yang Mengganggu Kesehatan
Misalnya:
- Terlalu sering makan makanan manis → risiko diabetes gestasional
- Makanan tinggi garam terus-menerus → tekanan darah naik
- Makanan mentah atau setengah matang → risiko infeksi
Ngidam boleh dituruti, tapi tetap dalam batas wajar dan aman, ya!
Cara Sehat Menyikapi Ngidam
1. Dengarkan Tubuh, Tapi Tetap Selektif
Kalau ngidamnya masih masuk akal dan gak membahayakan, gak masalah sesekali menuruti. Tapi kalau muncul keinginan aneh atau berlebihan, lebih baik ditahan atau cari alternatif.
2. Cukupi Kebutuhan Nutrisi Harian
Pastikan asupan harian mengandung:
- Zat besi (daging, sayur hijau, kacang-kacangan)
- Kalsium (susu, keju, yogurt)
- Asam folat, protein, dan serat
Ini bisa mengurangi kecenderungan ngidam berlebihan.
3. Bicarakan dengan Tenaga Medis
Gak perlu malu cerita soal ngidammu ke bidan atau dokter. Mereka bisa bantu evaluasi apakah ada kebutuhan nutrisi yang belum terpenuhi.
4. Jaga Pola Makan Teratur
Ngidam sering muncul saat kamu telat makan atau merasa lapar terus. Usahakan makan setiap 3–4 jam dalam porsi kecil tapi bergizi.
Ngidam aneh saat hamil itu hal yang lumrah dan manusiawi. Tapi penting juga untuk tetap peka dan cerdas menyikapinya. Jangan langsung anggap ngidam sebagai “kode dari bayi” yang wajib dituruti tanpa batas.
Dengarkan tubuhmu, jaga keseimbangan nutrisi, dan jangan ragu berkonsultasi. Karena yang terpenting bukan cuma menuruti keinginan, tapi memastikan kesehatan ibu dan calon bayi tetap optimal.
Ingat, kehamilan itu perjalanan fisik dan emosional. Merawat tubuh = merawat dua kehidupan sekaligus.














